Hari Jumat, 30 Oktober 2009 lalu gue mengganti suasana dating dengan menonton orkestra.. Hehehe.. Dan kali ini gue lumayan ngebet. Karena udah beberapa kali gue coba untuk nonton konser Capella Amadeus String Chamber Orchestra dimana temen SMA gue Pupa Karina B. Soerjodibroto adalah salah satu pemain biolanya, tapiiii yg ada gue keabisan tiket melulu..
To be honest, gue sebenernya mau membandingkan dengan konser-konser lokal lain yg pernah gue tonton sih. Soalnya so far belom ada yg memuaskan dan gue cukup penasaran dengan chamber yg udah tour keliling Indonesia sejak gue masih SMA ini. Dan yg lebih bikin penasaran lagi karena Karina sangat merekomendasikan konsernya yg ini. Karena katanya ada bintang tamu seorang cellist profesional tingkat dunia bernama David Riniker yg bakalan main bareng ! Dan katanya juga susah banget untuk ngundang dia. Kudu pake KKN. Hehe..
Berangkat dari rumah jam 1/2 6 untuk konser yg dijadwalkan jam 1/2 8. Dan jalanan macet berat !! Belom makan malem pula. Akhirnya setelah hopeless kesasar karena cari jalan alternatif yg kagak terlalu macet, makanlah dulu di KFC Blok M. Abis itu perjalanan lanjut dan tepat jam 1/2 8 gue sampe di Balai Kartini. Gue pun terseok-seok lari ke toilet (karena takut kebelet di sela-sela pertunjukan) soalnya luka alergi racun serangga itu masih belom sembuh total. Dan untunglah konser belom dimulai. Yorris yg masih terjebak di Ratu Plaza waktu gue masih terjebak di depan Jamsostek pun ngga ketinggalan konser untungnya.
Konser dibuka dengan Concerto Grosso in G-Major, Op. 6, No. 1, HWV 319 (Haendel). Terdiri dari 5 bagian : A tempo giusto, Allegro, Adagio, Allegro, Allegro Finale. Very nice song ! Gue yg khawatir Hendy bakalan ketiduran lirik-lirik dan untung dia keliatan menikmati walo gue yakin dia ngga ngerti (gue juga baru pertama kali denger tuh lagu hehehe). Soalnya lagunya lumayan ceria. Dan gue sangat amazed bahwa Capella Amadeus String Chamber Orchestra ternyata kualitasnya di atas harapan gue. Dengan begitu banyak alat musik gesek yg berperan di situ, seluruhnya bermain dengan harmonis. Ngga ada tuh yg namanya ada nada ketinggalan. Semua bermain rapi dan serempak. Bravo !
Lagu kedua adalah Concerto in G-Minor For 2 Cellos, RV 531 (Vivaldi). Lagu terbagi menjadi 3 bagian : Allegro, Largo dan Allegro. Di sini beberapa player turun panggung dan si bintang tamu muncul dengan seorang cellist cewe bernama Alice Yuriani Hadimuljo. Lagunya khas Vivaldi banget, yg kalo kata Hendy kayak lagu iklan furniture. Yeah emang lagu Vivaldi banyak dipake untuk iklan expo sih dan mostly furniture. Hehehe.. Yg sangat disayangkan adalah bahwa di lagu ini begitu keliatan perbedaan experience antara Alice Yuriani Hadimuljo dan David Riniker. Jadi sewaktu cello bersahut-sahutan, suaranya jadi kedengeran sumbang. Bukan karena Alice Y.H. yg kurang latihan. Tapi karena si David Riniker yg kelewat jago. Huehehe.. Gue yakin kalo dia ngga ada, permainan Alice Y.H. bisa dibilang bagus. Cuma karena dia ada, jadi standar pembandingnya naik terlalu tinggi. Tapi salut untuk Alice Y.H. yg ngga gentar bermain bareng dengan cellist level dunia. Konser kemarin juga pasti akan jadi pengalaman sangat berharga buat dia. Iya laahh, kapan lagiii getoohhh. Ibarat nyanyi bareng Michael Jackson kan
Hehehehe…
Seperti yg udah gue tebak, lagu ketiga adalah Cello Concerto in D-Major (Haydn). Lagu terbagi menjadi 3 bagian : Allegro Moderato, Adagio, dan Allegro. David Riniker berpindah posisi ke tengah-tengah. And really, he IS a damn great superb cellist. Lagu ini lullaby alias mendayu-dayu dan Hendy tidur dengan sukses di bagian ke-2 alias Adagio yg paling menyayat-nyayat itu. Hehehe..
Setelah break selama 10 menit, konser lanjut dengan Serenade for Strings in C-Major, Op. 48 (Tchaikovsky), yg terdiri dari 4 bagian : Piece in the form of a sonatina, Waltz, Elegie, Finale. Well, actually gue emang kurang suka dengan lagu-lagu Tchaikovsky karena menurut gue agak datar. Bukan ngga indah sih, tapi keindahannya itu rata dari awal sampe akhir yg membuat karyanya jadi agak monoton. Tapi gue suka kok bagian Waltz dan Finale. Dan agak ngantuk di bagian Elegie. Hihihihi.. Sedih sih…
Lagu terakhir adalah Andante Cantabile, Op. 11 (Tchaikovsky). David Riniker kembali pindah posisi ke tengah sebagai solo. Dan di sini dia bermain lebih hebat lagiiiii dibanding Cello Concerto sebelomnya. Gue sampe berpikir “Man..!! Ini sih udah bukan orang main cello, tapi dia itu adalah cello yg lagi bernyanyi”. Hehehe..
Sesuai dengan tradisi yg entah dateng dari mana tapi selalu menjadi kekhasan sebuah konser musik klasik, sang bintang tamu naik-turun panggung seirama dengan tepuk tangan yg ngga putus-putus dari para penonton yg terpesona. Dan setelah beberapa kali begitu, David Riniker & Capella Amadeus mempersembahkan 3 buah lagu tambahan, dimana salah satunya adalah O Ina Ni Keke ^^
Overall, gue PUAS banget nonton konser kemaren itu. Begituuu baruuu konseeerrr… Hehehehe… Bayar Rp 100.000,-/orang pun ngga rugi gue. Nonton dari balkon pun masih keliatan jelas dan suaranya pun jelas. Cuma yg ganggu itu luka gue aja yg masih 70%, jadi gue duduk gelisah gitu. Posisinya ngga ada yg wuenak karena lukanya masih denyut-denyut belom mau untuk duduk normal.
Berikut sekilas mengenai David Riniker (dari buku acara) :
================================================
Lahir di Basel (Swiss) di tahun 1970 sebagai anak dari seorang musisi, David Riniker mengawali studinya dengan Jean Paul Gueneux waktu berusia 6 tahun, dengan siapa dia menyelesaikan pendidikan awal cello pada usia 19 tahun dengan gelar kehormatan. Solo-diploma-nya dicapai 3 tahun kemudian dengan cellist Antonio Meneses di Music Academy Of Basel. Dia menyelesaikan pendidikannya dalam master-classes dengan Arto Noras, Boris Pergamenschikow, Wolfgang Boettcher dan David Geringas.
Pada usia 24, David mengikuti audisi untuk sebuah posisi di Berlin Philharmonic’s Karajan Academy. Tapi dia ditolak karena melebihi kualifikasi ! Dia diminta untuk mengikuti audisi lain keesokan harinya - kali ini untuk posisi dalam orkestra itu sendiri, dimana dia diterima di tempat.
Selain menjadi anggota Berlin Philharmonic Orchestra, dimana dia dipanggil “The Swiss” dikarenakan permainannya yg memiliki ketepatan dan kehandalan jam Swiss, David bermain dengan berbagai kombinasi musik kamar (chamber music), termasuk dengan “12 Cellisten der Berliner Philharmoniker” yg terkenal, “Breuninger-Quartett”, “Philharmonisches Streichtrio” dan duo dengan violinist Christoph Streuli. Dia juga berkembang menjadi arranger untuk 12 Cellists, meminta mereka untuk melakukan hal yg tidak pernah terbayangkan orang bisa dilakukan dengan cello.
Sebagai penerima banyak gelar kehormatan, baik di negerinya maupun di luar negeri, seperti pada “4e Tournoi Eurovision des Jeunes Musiciens” di Amsterdam, atau pada “European Youth Prize” di Varna (Bulgaria), David pernah bermain di Eropa, Amerika, Cina dan Jepang. Beberapa rekaman dibuat untuk radio dan CD, terutama CD “As Time Goes By” dan “Angel Dances” oleh “12 Cellists”, dimana dia menulis aransemennya.
================================================
Posted in Uncategorized | 4 Comments »


