Am I Destined Not To Get What I Want ?
October 6, 2007 by cherleechan
Hari ini gue baru posting iseng di Kafegaul soal "Apa sih sebenernya cita-cita elo?". Dan waktu gue posting untuk thread itu, ternyata gue nengok apa yg sebenernya ada di hati gue. Ternyata ada beberapa hal yg dgn berat hati harus gue lupakan tapi ngga bisa terhapus dari hati gue.
Hal paling penting adalah cita-cita hidup gue sesungguhnya, yaitu jadi dokter. Seperti anak-anak pada umumnya, cita-cita gue yang tercetus waktu kecil itu memang dokter. Tapi walaupun cita-cita gue bertambah selayaknya anak ABG belagu yg kepingin jadi astronot lah, profesor lah, apa aja disebut, tapi dokter ngga pernah lupa. Dan sampai menginjak bangku SMU pun yg kepikir di otak gue cuma dokter dan dokter aja. Walaupun lalu gue jadi suka main komputer, tapi di saat gue harus memilih universitas pun, pilihan gue masih "Fakultas Kedokteran UI". Tapi apa daya, orang tua gue menghalangi gue. Gue ditakuti dengan sejuta gambaran buruk tentang beratnya perjuangan menjadi seorang dokter dan juga keluhan betapa mahalnya biaya yang harus dikeluarkan untuk menjadi seorang dokter. Alhasil gue terjebak di Fakultas Ilmu Komputer sebagai pilihan kedua gue, walaupun di kepala gue masih tersimpan angan-angan untuk berjubah putih dan bermasker (entah deh itu dokter atau ilmuwan, sebenernya dua-duanya boleh aja). Dan hasilnya ya bisa dilihat sekarang. Whatever happens, I refuse to work in Information Technology field except on my spare time.
Hal penting kedua adalah tentang minat gue di luar bidang keilmuan. Well, sebenernya sih ada ilmunya juga (scr sekarang udah ada jurusannya juga) tapi masih bisa lah dipandang dari segi informal, lagipula gue juga kagak minat untuk nerusin ke jenjang formalnya. Ada 2 minat gue, yaitu bahasa dan musik. Untuk bahasa, boleh lah ya masih didukung juga walaupun di luar bahasa Inggris gue udah ngga begitu didukung lagi. Makin lama makin aneh sih. Gue mau les bahasa Perancis, bahasa Jepang dan… Bahasa Rusia..!
Suka-suka gue dong. Nah, tapi, untuk musik ini lebih parah lagi. Well, yeah, gue memang pernah dibeliin piano dan dilesin piano. Tapi alesan gue dibeliin piano itu adalah karena orang tua gue udah terlalu malu ngeliat gue ngga boleh ngeliat piano di rumah orang lain. Karena waktu itu gue masih kecil dan belom tau malu, gue sih main duduk dan mencet aja. Tinggal si empunya rumah khawatir pianonya gue pencet-pencet
Dan setelah dilesin piano, gue memang menunjukkan grafik perkembangan yg lumayan pesat. Dan tibalah di titik ‘itu’, yaitu dimana guru les privat gue pindah rumah (tadinya rumahnya cuma 1 km dari rumah gue) sehingga uang lesnya naik 50%, gue mulai jenuh karena ngga tau lagi harus main Sonatina Clementi seperti apa yg baik sehingga mulai teralih ke gitar, dan orang tua gue yg udah ngga mau lagi bayar les piano karena kenaikan itu. Gue yang sekarang jadi cuma berpikir, di kala gue sedang jenuh ternyata bukan support yg gue terima, tapi justru persetujuan dengan kemalasan gue itu >.< Dan hal itu adalah hal yg paling gue sesalkan sampai sekarang karena cutinya gue itu ternyata berlanjut hingga 10 tahun ke depan. Memang sih gue pernah mencoba les lagi karena gue sebenernya memang ‘cinta’ (walau sesaat bosan, tapi nanti juga akan balik lagi), tapi karena gurunya bukan guru piano dan gue merasa dia ngga mengajar gue dengan benar, gue jadi mutusin untuk cuti lagi. Dan setelah itu semua berakhir sampai piano gue dijual setahun yg lalu, sekarang gue merasa gue kepingin lagi nyentuh tuts piano itu dan memainkan lagu-lagu, entah yg dulu pernah gue mainkan ataupun lagu baru. Whatever it is, I want my voice to be brought out by my fingers. Tapi apa daya…. Bahkan keputusan gue untuk beli sebuah piano digital yg harganya jauh lebih murah dari upright pun tidak disetujui siapa pun. Padahal gue ingin….. Ingin banget bisa duduk dan main piano dgn benar seperti dulu lagi. Gue udah mengubur dalam-dalam cita-cita gue untuk bisa ikut resital sungguhan (bukan yg hanya sekedar untuk promosi Yamaha), tapi kok…..?
Gue bahkan sekarang udah ngga punya waktu lagi untuk main sama temen-temen sampai gue merasa sangat sangat kesepian. Untuk usia gue itu tuh udah suatu pengorbanan yg sangat besar. Untuk pacaran pun waktunya udah sangat terbatas. Kadang gue sampai berpikir, bahkan untuk meminta waktunya saja pun gue udah ngga bisa lagi. Setiap hari gue bergulat dengan pekerjaan dari gue membuka mata sampai nutup mata lagi karena ngga ada pilihan lain. Apakah gue bener-bener ngga berhak melakukan sesuatu untuk menyenangkan diri gue? Apakah selamanya gue harus melakukan segala sesuatu untuk kepentingan bersama saja? Siapa yg pernah bilang bahwa hadiah untuk diri sendiri itu juga penting? I’ve been working very hard these few years, dan apakah gue masih belum memenuhi syarat untuk mulai menghadiahi diri gue sebuah barang yg gue inginkan? Mungkin gue memang ngga akan setiap hari mainin barang itu. Gue juga udah browsing untuk menentukan yg mana pilihan gue, dan karena gue toh ngga berminat (dan ngga mungkin lagi) jadi profesional, jadi ya piano digital lah pilihan gue. Walaupun sejujur-jujurnya gue tuh ngga mau..! Pianis mana yg mau derajatnya diturunin dari upright lalu ke digital? Ada juga maunya ke grand. Tapi kalo memang keadaan ngga bisa ya lalu buat apa ngeyel?
Selama ini orang selalu melihat bahwa gue punya segalanya, terutama otak yg cemerlang. Padahal kalau tau yg sesungguhnya sih, gue udah kehilangan segalanya kecuali otak gue ini. Tapi selama ini hati gue selalu merasa iri kepada org yg berbakat dan punya kesempatan di bidang seni. Memang sih kalo kata orang ‘rumput tetangga selalu lebih hijau’ tapi gue ngga bisa menahan diri gue untuk kagum dan ingin juga bisa ada di sana. Tapi entah kenapa kok orang-orang selalu aja mengarahkan gue untuk menggunakan otak gue ini untuk berhitung tanpa memperhatikan minat gue sesungguhnya. Mungkin sih gue memang punya keberuntungan tersendiri dalam hidup, yaitu soal otak gue ini. Gue pernah ditest kemampuan otak kiri & kanan untuk penentuan jurusan. Dan di saat orang lain hasilnya signifikan, hasil gue justru meragukan. Kiri & kanan sama kuatnya, cuma beda tipis sekali, sekitar 2-3% aja. Kesimpulannya apa? Gue bisa-bisa aja mau milih untuk jadi seniman atau ilmuwan. Tapi kenapa sih orang-orang selalu bilang bodoh kalo punya otak cemerlang tapi digunakan cuma untuk jadi seniman. Gue rasa gue memang sudah terlalu banyak mendengarkan apa kata orang dan ngga mendengarkan apa kata hati gue sendiri.
Tapi selayaknya manusia yg sifatnya adalah ’sosial’, gue tentunya selalu merasa butuh second opinion. Tapi untuk kali ini.. Perlukah second opinion itu gue dengarkan lagi?
Gue hanya ngga mau menyesal di kemudian hari bahwa gue terlalu terlambat untuk mengasah diri gue lagi, karena usia itu ngga bisa diputer mundur karena ngga ada Doraemon di dunia ini. Gue udah pernah menyesali keputusan gue di masa lalu dan gue ngga ingin keputusan yg sama membuat gue menyesal untuk kedua kalinya..
Ck ck ck ….
Kenyataan tidak selalu sesuai dengan apa yg kita harapkan.
Gak kata terlambat utk mengejar cita-2. Ayo terus berusaha ! Ganbatte !
Btw lu gk nemu org buat nge ganti-in lu ngerjain kerjaan lu yg sekarang ? Di delegasi kan gitu kerjaan nya. Melipat, mengelem, menyulam, and so on…