Piano Duo : Wyneke Jordans & Leo van Doeselaar
August 12, 2008 by cherleechan
Akhir-akhir ini gue menjadi pengejar resital piano di mana-mana, selama masih di Jakarta. Hehehe.. Udah lama sebenernya pengen nulis ini, tapi baru sempet sekarang.
Pada tanggal 12 April 2008 lalu, di Erasmus Huis Jakarta, digelar sebuah resital piano duet yg diberi nama "Piano Duo : Wyneke Jordans en Leo van Doeselaar". Keduanya adalah pianis Belanda, spesialis duet, sahabat bermusik sekaligus pasangan suami-istri.
Pada resital kemarin, mereka membawakan 7 buah karya dari berbagai komponis dengan berbagai gaya musik yang berbeda, yaitu :
- Toccata en fuga in D BWV 565 (Johann Sebastian Bach)
- Rondo in A, op. 107, D. 951 (Franz Schubert, 1828)
- Thema met variaties in As, op. 17 (Julius Rontgen, 1878)
- Uit "Traumblatter" (Robert Nasveld, 2007)
- 3 Legenden, op. 59 (Antonin Dvorak, 1881)
- Uit "L’Enfant et les Sortileges" (Maurice Ravel, 1920-1925)
- Uit "Facade" (William Walton, 1926 & 1938)
- Rhapsody in Blue (George Gershwin, 1923)
Tidak ada kata yg cukup untuk menggambarkan betapa memukaunya pagelaran waktu itu. Seolah kata "excellent, marvelous, lovely, extraordinary" tidaklah pernah cukup.
Keseluruhan karya dimainkan dengan sangat indah, dengan harmonisasi yg sangat selaras. Seolah setiap karya dimainkan oleh seorang pianis dengan 4 tangannya sendiri, dan bukanlah oleh 2 orang pianis yg berbeda pemikiran dan cara pandang serta gaya bermain. Tingginya jam terbang duo ini sangat terlihat dari kematangan teknik serta apresiasi mereka terhadap karya yg dimainkan.
Berbagai warna musik klasik dibawakan dengan baik. Warna hapsichord kesukaan Bach, persahabatan yg ingin disampaikan Schubert, gaya Bohemia Dvorak, kemewahan orkestrasi Ravel, hingga hingar bingar khas New York yg tergambar dalam karya Gershwin sangat terasa di hati. Tidak banyak pianis yg dapat mengapresiasikan karya klasik dengan begitu baik. Bahkan karya Robert Nasveld yg berjudul "Traumblatter", yg untuk pertama kalinya dibawakan di dunia dalam sebuah konser, dibawakan dengan sangat baik.
Begitu memukaunya permainan duo Belanda ini, tepuk tangan tidak berhenti bergemuruh setelah mereka selesai memainkan Rhapsody In Blue. Sebenarnya sih maksud hati ingin memberi standing ovation saking terharunya denger Rhapsody In Blue yg begitu indah padahal hanya dimainkan di atas sebuah piano yg cuma 88 tuts..! Tapi, malu ah. Takut yg lain ngga ikutan. Hehehehe…
Permintaan encore dari penonton disambut oleh mereka dengan 2 karya pendek dari Stravinsky dengan gaya jenakanya. Resital piano yg sangat langka yg digelar di Jakarta ini harus berakhir juga. Kapan ya resital sebagus ini bisa ditonton lagi? Semoga saja dalam waktu dekat.